Dalam beberapa tahun terakhir, nama berberine ramai dibicarakan di media sosial sebagai suplemen ajaib yang dijuluki “Nature’s Ozempic” — alias versi alami dari obat diabetes dan penurun berat badan populer, Ozempic (semaglutide). Tapi, apakah klaim ini benar-benar didukung oleh sains, atau hanya tren kesehatan sesaat?
Apa Itu Berberine?
Berberine adalah senyawa alami berwarna kuning yang ditemukan dalam beberapa tanaman seperti Berberis vulgaris (barberry) dan Coptis chinensis (goldthread). Dalam pengobatan tradisional Tiongkok dan Ayurveda, berberine telah digunakan selama ribuan tahun untuk membantu mengatasi infeksi, gangguan pencernaan, dan masalah metabolik.
Penelitian modern menunjukkan bahwa berberine memiliki efek signifikan terhadap gula darah, kolesterol, dan metabolisme lemak. Mekanismenya terutama melalui aktivasi enzim AMP-activated protein kinase (AMPK) — sering disebut “saklar metabolik utama” tubuh — yang membantu meningkatkan sensitivitas insulin dan pembakaran energi.
Mengapa Disebut “Ozempic Alami”?
Ozempic bekerja dengan meniru hormon alami GLP-1 (glucagon-like peptide-1), yang membantu mengatur nafsu makan dan kadar gula darah. Sementara itu, berberine tidak meniru GLP-1, namun menghasilkan efek metabolik yang mirip — seperti menurunkan kadar gula darah puasa dan berat badan secara ringan.
Sebuah meta-analisis menunjukkan bahwa berberine mampu menurunkan kadar HbA1c (penanda gula darah jangka panjang) hampir seefektif obat metformin, yang umum digunakan untuk diabetes tipe 2. Studi lain menemukan bahwa konsumsi berberine selama 12 minggu dapat membantu penurunan berat badan sekitar 2–5 kg.
Namun, efeknya tidak sekuat Ozempic. Obat semaglutide terbukti dapat menurunkan berat badan hingga 10–15% dari total tubuh dengan cara menekan nafsu makan secara signifikan — efek yang belum terbukti terjadi pada berberine.
Manfaat dan Risiko
Selain mendukung pengaturan gula darah, berberine juga diketahui dapat:
-
Menurunkan kolesterol jahat (LDL) dan trigliserida
-
Memperbaiki keseimbangan bakteri usus
-
Mengurangi peradangan dan stres oksidatif
Namun, penggunaannya tetap perlu hati-hati. Efek samping yang sering dilaporkan termasuk gangguan pencernaan, diare, atau konstipasi. Berberine juga dapat berinteraksi dengan obat resep, termasuk antibiotik dan pengencer darah. Ibu hamil dan menyusui sebaiknya menghindari suplemen ini.
Selain itu, karena industri suplemen tidak diatur seketat obat medis, kualitas dan dosis berberine bisa berbeda-beda antar merek.
Kesimpulan
Berberine memang memiliki potensi besar dalam mendukung kesehatan metabolik dan pengelolaan gula darah, namun menyebutnya sebagai “Ozempic alami” terlalu berlebihan. Efeknya nyata, tetapi jauh lebih ringan dan tidak bisa menggantikan obat yang diresepkan dokter.
Jika ingin mencoba berberine, konsultasikan dulu dengan tenaga medis — terutama bila kamu sedang mengonsumsi obat lain. Ingat, “alami” tidak selalu berarti aman atau memiliki efek yang sama kuatnya seperti terapi medis.
Sumber:
-
Imenshahidi, M., & Hosseinzadeh, H. (2019). Berberine and barberry (Berberis vulgaris): A clinical review.Phytotherapy Research, 33(3), 504–523. https://doi.org/10.1002/ptr.6263
-
Wang, Y., Wang, L., Zhang, Y., Zhang, Y., & Fan, X. (2022). Effects of berberine on weight loss: A systematic review and meta-analysis of randomized controlled trials. Frontiers in Pharmacology, 13, 918169. https://doi.org/10.3389/fphar.2022.918169
-
Yin, J., Xing, H., & Ye, J. (2008). Efficacy of berberine in patients with type 2 diabetes mellitus. Metabolism, 57(5), 712–717. https://doi.org/10.1016/j.metabol.2008.01.013
-
Zhang, Y., Li, X., Zou, D., Liu, W., Yang, J., Zhu, N., … & Jia, W. (2010). Treatment of type 2 diabetes and dyslipidemia with the natural plant alkaloid berberine. The Journal of Clinical Endocrinology & Metabolism, 93(7), 2559–2565. https://doi.org/10.1210/jc.2007-2404
Tinggalkan komentar