Polusi udara telah menjadi salah satu masalah lingkungan dan kesehatan paling serius di abad ke-21. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memperkirakan sekitar 7 juta kematian dini setiap tahun terkait dengan paparan udara tercemar, baik di luar maupun di dalam ruangan (WHO, 2021). Bagi masyarakat perkotaan, partikel halus (PM2.5), nitrogen dioksida (NO₂), karbon monoksida (CO), serta senyawa organik volatil (VOC) merupakan polutan utama yang berdampak buruk bagi kesehatan pernapasan dan kardiovaskular. Lalu, bagaimana individu dapat melindungi diri dari dampak buruk polusi udara? Salah satu solusi yang semakin populer adalah penggunaan air purifier.
Dampak Polusi Udara terhadap Kesehatan
Paparan polusi udara terbukti berhubungan dengan penyakit pernapasan seperti asma, penyakit paru obstruktif kronis (PPOK), dan kanker paru-paru. Selain itu, polusi juga meningkatkan risiko penyakit kardiovaskular seperti hipertensi, penyakit jantung, dan stroke. Paparan jangka panjang bahkan dapat mengganggu perkembangan kognitif anak-anak dan meningkatkan risiko demensia pada lansia.
Polusi udara dalam ruangan tidak kalah berbahaya. Badan Perlindungan Lingkungan AS (EPA) menyatakan bahwa udara dalam ruangan bisa 2 hingga 5 kali lebih tercemar dibandingkan udara luar, akibat asap memasak, asap rokok, bahan bangunan, serta bahan kimia rumah tangga. Hal ini menjadikan kualitas udara dalam ruangan sebagai isu kesehatan penting.
Air Purifier sebagai Solusi
Air purifier adalah perangkat yang dirancang untuk menghilangkan polutan dari udara dalam ruangan. Model yang paling efektif biasanya menggunakan filter HEPA (High Efficiency Particulate Air), yang mampu menangkap hingga 99,97% partikel berukuran 0,3 mikron. Teknologi ini efektif menyaring debu, serbuk sari, bulu hewan, spora jamur, dan PM2.5.
Beberapa air purifier juga dilengkapi dengan filter karbon aktif untuk menyerap bau, VOC, serta gas tertentu. Teknologi tambahan seperti sinar ultraviolet (UV) atau ionisasi kadang digunakan, meski efektivitas dan keamanannya masih diperdebatkan.
Penelitian menunjukkan air purifier dapat menurunkan tingkat polusi dalam ruangan. Allen et al. (2011) menemukan bahwa filter HEPA mampu mengurangi konsentrasi PM2.5 hingga 60% di rumah-rumah yang berlokasi dekat jalan raya, dengan perbaikan pada indikator kesehatan kardiovaskular. Penelitian di Tiongkok juga menunjukkan bahwa penggunaan air purifier meningkatkan tekanan darah dan fungsi paru saat terjadi polusi udara berat.
Keterbatasan dan Hal yang Perlu Diperhatikan
Meski bermanfaat, air purifier bukanlah solusi total. Perangkat ini lebih efektif di satu ruangan tertentu dan kinerjanya sangat bergantung pada ukuran ruangan, perawatan, serta penggantian filter secara rutin. Selain itu, air purifier tidak mengatasi sumber utama polusi seperti emisi kendaraan, aktivitas industri, atau pembakaran bahan bakar rumah tangga.
Oleh karena itu, penggunaan air purifier sebaiknya dipadukan dengan strategi lain, seperti meningkatkan ventilasi rumah, mengurangi sumber polutan dalam ruangan, serta mendukung kebijakan pengendalian polusi udara.
Kesimpulan
Polusi udara adalah ancaman serius bagi kesehatan global. Meski solusi jangka panjang membutuhkan intervensi kebijakan besar, air purifier menawarkan cara praktis bagi individu untuk mengurangi paparan polusi di dalam ruangan. Dengan menggabungkan solusi personal seperti air purifier dan upaya kolektif mengurangi emisi, kita dapat bergerak menuju masa depan yang lebih sehat.
Sumber:
-
Allen, R. W., Carlsten, C., Karlen, B., Leckie, S., van Eeden, S., Vedal, S., & Brauer, M. (2011). An air filter intervention study of endothelial function among healthy adults in a woodsmoke-impacted community. American Journal of Respiratory and Critical Care Medicine, 183(9), 1222–1230. https://doi.org/10.1164/rccm.201010-1572OC
-
ASHRAE. (2017). Standard 52.2: Method of Testing General Ventilation Air-Cleaning Devices for Removal Efficiency by Particle Size. American Society of Heating, Refrigerating and Air-Conditioning Engineers.
-
Brook, R. D., Rajagopalan, S., Pope, C. A., Brook, J. R., Bhatnagar, A., Diez-Roux, A. V., & Kaufman, J. D. (2010). Particulate matter air pollution and cardiovascular disease. Circulation, 121(21), 2331–2378. https://doi.org/10.1161/CIR.0b013e3181dbece1
-
EPA. (2021). Introduction to Indoor Air Quality. United States Environmental Protection Agency. https://www.epa.gov/indoor-air-quality-iaq/introduction-indoor-air-quality
-
Power, M. C., Weisskopf, M. G., Alexeeff, S. E., Coull, B. A., Spiro, A., & Schwartz, J. (2016). Traffic-related air pollution and cognitive function in a cohort of older men. Environmental Health Perspectives, 119(5), 682–687. https://doi.org/10.1289/ehp.1002767
-
WHO. (2021). Air Pollution. World Health Organization. https://www.who.int/health-topics/air-pollution
-
Zhang, X., Chen, X., Zhang, X., & Currie, J. (2016). Indoor air purification and health: Evidence from a randomized experiment in China. Journal of Environmental Economics and Management, 77, 1–16. https://doi.org/10.1016/j.jeem.2016.01.005
Tinggalkan komentar