Situs ini memiliki dukungan terbatas untuk browser Anda. Sebaiknya beralih ke Edge, Chrome, Safari, atau Firefox.

Gunakan kode FREESHIP untuk pesanan di atas IDR 90.000

Hai Nona! Unduh aplikasi pelacak menstruasi kami untuk iOS & Android untuk memahami lebih baik tentang siklus menstruasi kamu.

Perlukah Kita Mengganti Suplemen Probiotik Secara Berkala? Ini Penjelasan Ilmiahnya

Perlukah Kita Mengganti Suplemen Probiotik Secara Berkala? Ini Penjelasan Ilmiahnya

Suplemen probiotik kini menjadi salah satu produk kesehatan paling populer. Banyak orang mengonsumsinya untuk menjaga pencernaan, meningkatkan imunitas, bahkan menstabilkan suasana hati. Namun, muncul satu pertanyaan penting: apakah kita perlu mengganti atau “merotasi” suplemen probiotik dari waktu ke waktu?

Jawabannya: tergantung — pada kondisi tubuh, tujuan kesehatan, dan jenis probiotik yang digunakan.


Bagaimana Probiotik Bekerja

Probiotik adalah mikroorganisme hidup yang memberikan manfaat bagi tubuh bila dikonsumsi dalam jumlah cukup. Fungsinya antara lain membantu menjaga keseimbangan bakteri di usus, memperkuat sistem pencernaan, serta meningkatkan daya tahan tubuh.

Namun, tidak semua probiotik sama. Setiap strain (jenis bakteri) memiliki manfaat berbeda. Misalnya, Lactobacillus rhamnosus GG dapat membantu mencegah diare, sedangkan Bifidobacterium longum dapat mengurangi perut kembung dan peradangan.


Alasan Mengapa Beberapa Ahli Menyarankan Rotasi

Sebagian ahli berpendapat bahwa merotasi probiotik — artinya mengganti merek atau kombinasi strain dari waktu ke waktu — bisa memberikan manfaat tambahan. Alasannya, usus kita menyukai keberagaman bakteri. Dengan mengganti jenis probiotik, kita bisa memperkenalkan variasi mikroba baru dan mencegah “kejenuhan” mikrobiota usus.

Selain itu, rotasi juga berguna bila kamu punya tujuan kesehatan yang berbeda di waktu tertentu. Contohnya:

  • Setelah minum antibiotik: pilih probiotik kaya Lactobacillus untuk mengembalikan keseimbangan usus.

  • Untuk pencernaan jangka panjang: tambahkan Bifidobacterium untuk mendukung metabolisme dan suasana hati.

  • Untuk daya tahan tubuh: gunakan Saccharomyces boulardii atau Lactobacillus casei.

Namun, penelitian tentang manfaat rotasi probiotik masih terbatas. Sebagian besar studi justru meneliti penggunaan strain tetap dalam jangka waktu tertentu.


Alasan untuk Tetap Konsisten

Banyak ahli juga menekankan bahwa konsistensi lebih penting daripada rotasi. Sebagian besar probiotik bersifat sementara — artinya, mereka tidak menetap secara permanen di usus. Begitu kamu berhenti mengonsumsi, jumlah bakterinya menurun.

Jadi, jika kamu sudah menemukan suplemen probiotik yang cocok — misalnya membantu pencernaan, mengurangi kembung, atau memperbaiki mood — tidak ada alasan ilmiah kuat untuk menggantinya. Bahkan, terlalu sering mengganti produk justru bisa menyebabkan gangguan sementara pada keseimbangan mikrobiota.


Kesimpulan

Tidak ada aturan baku soal apakah kita harus merotasi probiotik. Yang terpenting adalah:

  • Pilih strain yang sudah teruji secara klinis sesuai kebutuhan.

  • Amati bagaimana tubuhmu bereaksi setelah konsumsi rutin.

  • Konsultasikan dengan tenaga medis atau ahli gizi jika kamu memiliki masalah pencernaan atau imunitas tertentu.

Singkatnya, rotasi probiotik tidak berbahaya — tapi belum tentu perlu. Kunci utamanya adalah konsistensi dan kesadaran terhadap kebutuhan tubuhmu sendiri, serta dukungan dari pola makan seimbang kaya serat dan makanan fermentasi alami.


Sumber:

  • Hill, C., Guarner, F., Reid, G., Gibson, G. R., Merenstein, D. J., Pot, B., Morelli, L., Canani, R. B., Flint, H. J., Salminen, S., Calder, P. C., & Sanders, M. E. (2014). Expert consensus document: The International Scientific Association for Probiotics and Prebiotics consensus statement on the scope and appropriate use of the term probiotic. Nature Reviews Gastroenterology & Hepatology, 11(8), 506–514. https://doi.org/10.1038/nrgastro.2014.66

  • McFarland, L. V. (2015). From yaks to yogurt: The history, development, and current use of probiotics. Clinical Infectious Diseases, 60(Suppl 2), S85–S90. https://doi.org/10.1093/cid/civ054

  • Ouwehand, A. C., Forssten, S. D., Hibberd, A. A., Lyra, A., & Stahl, B. (2018). Probiotic approach to prevent antibiotic resistance. Annals of Medicine, 50(6), 420–434. https://doi.org/10.1080/07853890.2018.1508818

  • Sanders, M. E., Merenstein, D. J., Reid, G., Gibson, G. R., & Rastall, R. A. (2019). Probiotics and prebiotics in intestinal health and disease: From biology to the clinic. Nature Reviews Gastroenterology & Hepatology, 16(10), 605–616. https://doi.org/10.1038/s41575-019-0173-3

Tinggalkan komentar

Use coupon code WELCOME10 for 10% off your first order.

Keranjang

Selamat! Pesanan Anda memenuhi syarat untuk pengiriman gratis Spend Rp 200.000 for free shipping
Tidak ada lagi produk yang tersedia untuk dibeli

Keranjang Anda saat ini kosong.