Situs ini memiliki dukungan terbatas untuk browser Anda. Sebaiknya beralih ke Edge, Chrome, Safari, atau Firefox.

Gunakan kode FREESHIP untuk pesanan di atas IDR 90.000

Hai Nona! Unduh aplikasi pelacak menstruasi kami untuk iOS & Android untuk memahami lebih baik tentang siklus menstruasi kamu.

Ketika Suara Perempuan Tak Didengar: Fenomena Gaslighting di Dunia Medis

Ketika Suara Perempuan Tak Didengar: Fenomena Gaslighting di Dunia Medis

Selama bertahun-tahun, banyak perempuan mengalami fenomena yang sering kali tidak terlihat namun sangat berbahaya di dunia kesehatan — medical gaslighting. Istilah ini merujuk pada situasi ketika dokter atau tenaga medis meremehkan, mengabaikan, atau menyalahartikan gejala pasien perempuan, sering kali dengan alasan “terlalu cemas”, “terlalu sensitif”, atau “hanya stres”.

Meskipun siapa pun bisa mengalami gaslighting medis, perempuan secara signifikan lebih rentan. Bias gender yang telah lama tertanam dalam sistem kesehatan membuat keluhan perempuan sering dianggap kurang valid — sebuah masalah yang berdampak langsung pada diagnosis, perawatan, dan bahkan keselamatan hidup mereka.


Apa Itu Medical Gaslighting?

Medical gaslighting terjadi ketika tenaga medis membuat pasien meragukan pengalaman tubuhnya sendiri. Ucapan seperti “itu cuma karena hormon” atau “kamu terlalu khawatir” dapat menyebabkan pasien berhenti percaya pada intuisi dan pengalaman dirinya.

Penelitian menunjukkan bahwa bias gender dalam dunia medis masih sangat kuat, di mana gejala perempuan sering dianggap emosional, bukan medis.


Ketimpangan Gender dalam Layanan Kesehatan

1. Rasa Sakit Perempuan Sering Diremehkan

Studi menunjukkan bahwa perempuan lebih sering tidak dipercaya saat melaporkan rasa sakit. Penelitian oleh Hoffman & Tarzian (2001) menemukan bahwa perempuan lebih jarang diberi obat pereda nyeri dibanding laki-laki, dan sering menunggu lebih lama untuk mendapatkannya.

Kondisi seperti endometriosis, lupus, atau sindrom kelelahan kronis sering kali tidak terdiagnosis selama bertahun-tahun karena gejalanya dianggap “psikologis” atau “normal bagi perempuan”.

2. Bias Emosional dalam Diagnosis

Perempuan juga lebih sering menerima diagnosis yang dikaitkan dengan masalah psikologis. Studi dari Yale University (Greenwood et al., 2018) menemukan bahwa perempuan yang datang ke rumah sakit dengan nyeri dada lebih jarang dirujuk untuk pemeriksaan jantung, meskipun menunjukkan gejala serupa dengan pasien laki-laki.

3. Dampaknya Terhadap Kepercayaan dan Kesehatan

Ketika perempuan terus-menerus diabaikan, hal ini dapat menurunkan rasa percaya diri dan membuat mereka enggan mencari bantuan medis. Menurut Samulowitz et al. (2018), gaslighting medis yang berulang dapat memperburuk kondisi fisik dan mental, serta memperlambat proses pemulihan.


Mengakhiri Bias: Mendengarkan Adalah Bentuk Penyembuhan

Untuk mengakhiri medical gaslighting, diperlukan perubahan di tingkat sistem dan budaya. Institusi pendidikan kedokteran harus memberikan pelatihan sensitif gender, agar tenaga medis mampu mengenali dan mengurangi bias yang tidak disadari.

Di sisi lain, perempuan juga bisa berdaya dengan mencatat gejala, mencari opini kedua, dan membawa pendamping ke konsultasi medis. Gerakan advokasi kesehatan perempuan — seperti kampanye kesadaran endometriosis atau kesehatan ibu — telah membuka jalan bagi perubahan ini.

Yang paling penting: mendengarkan pasien adalah langkah pertama menuju kesembuhan. Ketika perempuan merasa didengar, mereka lebih percaya pada perawatan dan lebih cepat pulih.


Kesimpulan

Medical gaslighting bukan tentang dokter yang jahat, tetapi tentang sistem yang masih bias terhadap perempuan. Untuk menciptakan layanan kesehatan yang adil, kita perlu mengakui bahwa pengalaman perempuan sama validnya dan harus dipercaya.

Setiap perempuan berhak untuk didengar — dan disembuhkan.


Sumber:

  • Greenwood, B. N., Carnahan, S., & Huang, L. (2018). Patient–physician gender concordance and increased mortality among female heart attack patients. Proceedings of the National Academy of Sciences, 115(34), 8569–8574. https://doi.org/10.1073/pnas.1800097115

  • Hamberg, K. (2008). Gender bias in medicine. Women’s Health, 4(3), 237–243. https://doi.org/10.2217/17455057.4.3.237

  • Hoffman, D. E., & Tarzian, A. J. (2001). The girl who cried pain: A bias against women in the treatment of pain.Journal of Law, Medicine & Ethics, 29(1), 13–27. https://doi.org/10.1111/j.1748-720X.2001.tb00037.x

  • Samulowitz, A., Gremyr, I., Eriksson, E., & Hensing, G. (2018). “Brave men” and “emotional women”: A theory-guided literature review on gender bias in health care and gendered norms towards patients with chronic pain. Pain Research and Management, 2018, 6358624. https://doi.org/10.1155/2018/6358624

Tinggalkan komentar

Use coupon code WELCOME10 for 10% off your first order.

Keranjang

Selamat! Pesanan Anda memenuhi syarat untuk pengiriman gratis Spend Rp 200.000 for free shipping
Tidak ada lagi produk yang tersedia untuk dibeli

Keranjang Anda saat ini kosong.