Kerutan adalah bagian alami dari proses penuaan. Namun, pernahkah kamu bertanya-tanya mengapa ada orang yang kulitnya tetap halus di usia 50-an, sementara yang lain mulai berkerut lebih cepat? Jawabannya ada pada kombinasi antara faktor genetik dan faktor situasional (lingkungan dan gaya hidup). Memahami perbedaan keduanya dapat membantu kita merawat kulit dengan lebih cerdas.
Kerutan Genetik: Warisan dari DNA
Kerutan genetik muncul akibat proses penuaan intrinsik, yaitu penuaan alami yang ditentukan oleh DNA kita. Proses ini terjadi perlahan seiring waktu — kulit menjadi lebih tipis, produksi kolagen dan elastin menurun, dan regenerasi sel kulit melambat.
Beberapa gen berperan dalam menjaga elastisitas dan kekuatan kulit. Misalnya, variasi pada gen MMP1 dapat memengaruhi seberapa cepat kolagen di kulit terurai, sementara gen COL1A1 menentukan kualitas struktur kolagen.
Selain faktor genetik, jenis kulit juga berpengaruh. Orang dengan kulit terang atau tipis cenderung lebih cepat berkerut karena memiliki perlindungan alami yang lebih sedikit terhadap sinar UV.
Kita memang tidak bisa mengubah DNA, tapi memahami kecenderungan genetik dapat membantu kita mulai melakukan pencegahan lebih awal, seperti menggunakan tabir surya secara rutin dan menjaga kelembapan kulit sejak muda.
Kerutan Situasional: Akibat Lingkungan dan Gaya Hidup
Berbeda dengan faktor genetik, kerutan situasional disebabkan oleh faktor eksternal seperti paparan sinar matahari, polusi, stres, merokok, kurang tidur, dan ekspresi wajah berulang.
Penyebab terbesar adalah photoaging, yaitu kerusakan kulit akibat paparan sinar UV. Sinar matahari memicu pembentukan radikal bebas yang merusak kolagen dan elastin, membuat kulit kendur dan muncul garis halus lebih cepat.
Kebiasaan merokok juga mempercepat penuaan kulit karena mengurangi aliran darah dan menghambat produksi kolagen. Begitu pula dengan polusi udara dan stres kronis, yang meningkatkan kadar hormon kortisol dan mempercepat proses inflamasi di kulit.
Pola makan juga berperan besar. Konsumsi makanan kaya antioksidan — seperti buah, sayur, dan lemak sehat dari ikan — dapat membantu menetralkan radikal bebas dan menjaga elastisitas kulit.
Menyeimbangkan Faktor Genetik dan Gaya Hidup
Faktor genetik memang menentukan dasar penuaan kulit, tetapi gaya hiduplah yang menentukan kecepatannya. Penelitian menunjukkan bahwa hingga 80% tanda penuaan kulit yang terlihat sebenarnya disebabkan oleh faktor lingkungan, bukan genetik.
Langkah pencegahan sederhana seperti menggunakan sunscreen setiap hari, minum cukup air, makan makanan bergizi, dan tidur cukup dapat secara signifikan memperlambat munculnya kerutan.
Selain itu, produk dengan bahan aktif seperti retinoid, vitamin C, dan peptida dapat membantu merangsang produksi kolagen dan memperbaiki tekstur kulit.
Kesimpulannya, meskipun kita tidak bisa mengubah gen, kita bisa mengontrol bagaimana kulit kita menua melalui perawatan dan kebiasaan yang konsisten. Kulit sehat bukan hanya soal keberuntungan genetik — tapi hasil dari perawatan sadar setiap hari.
Sumber:
-
Cosgrove, M. C., Franco, O. H., Granger, S. P., Murray, P. G., & Mayes, A. E. (2007). Dietary nutrient intakes and skin-aging appearance among middle-aged American women. The American Journal of Clinical Nutrition, 86(4), 1225–1231. https://doi.org/10.1093/ajcn/86.4.1225
-
Fisher, G. J., Kang, S., Varani, J., Bata-Csorgo, Z., Wan, Y., Datta, S., & Voorhees, J. J. (2002). Mechanisms of photoaging and chronological skin aging. Archives of Dermatology, 138(11), 1462–1470. https://doi.org/10.1001/archderm.138.11.1462
-
Gilchrest, B. A. (2013). Photoaging. Journal of Investigative Dermatology Symposium Proceedings, 8(1), 38–40. https://doi.org/10.1046/j.1523-1747.2003.12168.x
-
Ito, A., Hibino, T., & Sato, K. (2017). Genetic background of skin aging and photoaging. Frontiers in Genetics, 8, 54. https://doi.org/10.3389/fgene.2017.00054
-
Makrantonaki, E., & Zouboulis, C. C. (2007). Molecular mechanisms of skin aging: State of the art. Annals of the New York Academy of Sciences, 1119(1), 40–50. https://doi.org/10.1196/annals.1404.027
-
Puizina-Ivić, N. (2008). Skin aging. Acta Dermatovenerologica Alpina, Pannonica et Adriatica, 17(2), 47–54.
-
Vierkötter, A., & Krutmann, J. (2012). Environmental influences on skin aging and ethnogeographic differences.Journal of Investigative Dermatology Symposium Proceedings, 17(1), 9–11. https://doi.org/10.1038/jidsymp.2012.2
Tinggalkan komentar