Pandemi Memperkuat Krisis Kemiskinan Menstruasi

Oleh Monica P

Sebelum tahun 2020, kemiskinan menstruasi sudah menjadi masalah yang melemahkan secara global. Di Indonesia, 1 dari 3 perempuan sedang berada dalam keadaan kemiskinan menstruasi. Karena pandemi terus menyebabkan kejatuhan ekonomi, situasi kemiskinan menstruasi menjadi lebih buruk secara eksponensial bagi banyak perempuan. Menstruasi tidak berhenti di masa pandemi.

PKemiskinan menstruasi itu bukan hanya kurangnya akses ke produk menstruasi. Termasuk juga minimnya akses ke pendidikan, air bersih, dan fasilitas yang memadai. Kemiskinan menstruasi bukanlah masalah yang terisolasi. Ini adalah masalah sistemik yang muncul dari budaya patriarki yang ada yang tidak memprioritaskan kebutuhan sosial, fisik, dan emosional perempuan. Struktur sosial yang sangat beracun ini membuat perempuan kehilangan hak-hak yang penting seperti akses ke produk menstruasi dan akses ke pendidikan seputar kesehatan pribadi mereka.

Pandemi ini telah memperburuk kemiskinan menstruasi melalui berbagai cara, termasuk:

  • Meningkatkan pengangguran dan kesulitan ekonomi
  • Akses terbatas ke toko penjualan produk menstruasi
  • Pelanggan menimbun
  • Kekurangan stok produk menstruasi
  • Pembatasan akses ke fasilitas sanitasi seperti air bersih, toilet, tempat cuci tangan

Penurunan akses ke produk menstruasi

Period poverty Pandemic Coronavirus Pads Cups Menstrual Pads Tampons

Pandemi memiliki dampak keuangan yang besar pada banyak rumah tangga, sehingga semakin sulit bagi keluarga untuk mempenuhi biaya produk menstruasi untuk banyak orang dalam rumah tangganya. Sebuah penelitian yang dilakukan oleh Always (dijual atas merek Whisper di Indonesia) menemukan bahwa 1 dari 3 orang tua khawatir tentang kemampuan mereka untuk membeli produk menstruasi. Produk-produk ini mungkin tersedia secara luas untuk dibeli di toko-toko tetapi itu tidak berarti bahwa setiap orang mampu membelinya.

Selanjutnya, dalam survei yang dilakukan oleh Plan International para responden menyebutkan bahwa harga produk menstruasi telah meningkat selama pandemi. Dari tenaga kesehatan yang disurvei, lebih dari setengah (58%) dari mereka mencatat bahwa kenaikan harga produk memperburuk kemiskinan menstruasi selama lockdown. Ini terutama karena kekurangan penawaran dan peningkatan permintaan yang tiba-tiba. Di Inggris, jumlah perempuan yang melaporkan bahwa mereka tidak mampu membeli produk menstruasi telah meningkat tiga kali lipat sejak dimulainya lockdown. Dari mereka, 54% mengatakan mereka harus menggunakan tisu toilet sebagai gantinya.

Hambatan Pendidikan

Period Poverty Education Pandemic Coronavirus Indonesia

Dengan sekolah semua menjadi virtual dan anak-anak terpaksa untuk tinggal di rumah, hubungan langsung dan rutin dengan orang-orang yang memberikan informasi tentang manajemen kebersihan menstruasi dan dukungan seperti guru, teman, petugas kesehatan dan anggota keluarga besar terhenti.

Meningkatnya hambatan untuk menerima informasi yang akurat berarti bahwa perempuan muda lebih cenderung salah mengatur kesehatan menstruasi mereka. Sekolah dan pemerintah berjuang untuk menjaga agar siswa-siswi tetap mengikuti kurikulum karena tidak semuanya memiliki akses ke internet atau komputer yang dapat diandalkan di rumah. Guru-guru tidak mampu mengajarkan silabus mereka secara efektif apalagi memprioritaskan pendidikan seks! Hal ini menyebabkan tingkat putus sekolah yang lebih tinggi dan peningkatan risiko kehamilan dini dan tidak direncanakan karena kurangnya pengetahuan tentang kesehatan reproduksi.

Selain itu, kurangnya sistem pendukung semakin memperburuk stigma dan tabu seputar menstruasi, Ini meningkatkan perasaan malu dan keaiban anak perempuan terhadap menstruasi mereka. Menurut Plan International, sekitar 20% perempuan yang disurvei merasa lebih malu selama masa pandemi mereka.

Fasilitas yang tidak dapat diakses

Period Poverty Indonesia Pandemic Sanitation Facilities Toilet

Pembatasan yang terjadi oleh karena pandemi telah membuat sebagian perempuan sulit mendapatkan akses ke fasilitas untuk mencuci, mengganti produk menstruasi, atau membersihkan selama menstruasi. Ini berarti kurangnya akses ke air bersih untuk mencuci, fasilitas dengan privasi yang memadai untuk mengganti dan sarana yang tepat untuk membuang produk bekas mereka.

Ini mungkin tidak terbayangkan bagi banyak orang. Tapi inilah kenyataan bagi puluhan ribu perempuan dan keluarga tunawisma yang kehilangan pekerjaan, tidak bisa membayar sewa dan diusir dari rumah mereka. Tanpa akses air bersih yang dapat diandalkan, perempuan tidak dapat menjalani menstruasi dengan aman dan higienis. Selain air, barang-barang dasar seperti pembalut atau sabun mungkin lebih sulit didapat dan mungkin juga dijatah di lembaga publik seperti tempat penampungan tunawisma.

Masalah mengakses fasilitas sanitasi yang andal dengan privasi juga menjadi lebih mendalam. Dengan adanya pandemi, sebagian perempuan tidak dapat dengan mudah mengakses toilet di luar rumah, di rumah lain atau toilet umum, karena risiko tertular COVID-19. Menurut sebuah survei di Inggris, 26% anak perempuan merasa bahwa mereka tidak bisa meninggalkan rumah karena sedang menstruasi. Orang hanya dapat membayangkan bahwa jumlah ini akan jauh lebih tinggi di negara-negara kurang berkembang.

Di Indonesia, yang umum dilakukan adalah pencucian pembalut bekas sebelum dibuang, karena darah haid dianggap 'kotor' dan untuk menghilangkan bau, karena kepercayaan dan ketakutan tertentu orang lain akan mengetahui bahwa mereka sedang menstruasi. Ini sekali lagi semakin memperkuat stigma dan tabu seputar periode di masyarakat kita.

Apa yang bisa kita lakukan?

Sebagai seorang yang bermenstruasi sendiri, saya sedih mendengar bahwa beberapa perempuan tidak dapat mengakses persediaan dasar yang dibutuhkan untuk menjalani menstruasi mereka setiap bulan. Jika kita berada dalam posisi untuk melakukan perubahan, kita harus mengambil tindakan!

Ini adalah sebagian dari alasan mengapa saya dan Nicole memulai Nona. Kami ingin membuat perawatan dan pendidikan menstruasi lebih mudah diakses dan lebih baik bagi perempuan di seluruh Indonesia. Kami ingin membangun komunitas untuk membiasakan pembicaraan dan diskusi menstruasi tentang cerita individu kita, para perempuan.

Selain Nona, berikut adalah beberapa ide yang bersama-sama dapat kita lakukan untuk membantu mereka yang berada di masa kemiskinan:

  • Didik diri sendiri, semakin banyak yang kamu tahu, semakin banyak pengetahuan yang bisa kamu bagikan. Kamu sudah melakukan ini dengan membaca artikel ini. Ikuti kami di Instagram untuk mempelajari lebih lanjut!
  • Bicarakan tentang menstruasi kamu, pemecahan stigma dan tabu dimulai dari kamu. Bicarakan dengan keluarga, teman, kolega, hewan peliharaan kamu. Kita semua bersama-sama, yuk meningkatkan kesadaran.
  • Donasikan produk menstruasi dan bantu sesama yang bermenstruasi. Saya jamin, tindakan kecil ini akan membuat seorang perempuan tersenyum.

Punya ide lain? Beri tahu kami melalui Instagram atau tinggalkan komentar di bawah!



Tinggalkan komentar

Keranjang Belanja

Tidak ada produk lain yang tersedia untuk dibeli

Keranjangmu saat ini kosong.