Saat menstruasi, tubuh sering terasa lelah, perut terasa kembung, dan keinginan mengonsumsi makanan atau minuman manis meningkat. Banyak perempuan yang kemudian memilih minuman bersoda sebagai pelepas dahaga dan penambah energi cepat. Namun, apakah minum soda saat haid sebenarnya aman bagi tubuh?
1. Gula dan Fluktuasi Hormon
Satu kaleng soda mengandung sekitar 35–40 gram gula, setara dengan 8–10 sendok teh. Gula dalam jumlah tinggi dapat menyebabkan lonjakan dan penurunan kadar gula darah secara drastis, yang memicu perubahan suasana hati, rasa lelah, dan meningkatkan gejala PMS.
Penelitian yang diterbitkan di BMJ Open (Jang et al., 2018) menemukan bahwa remaja perempuan yang rutin mengonsumsi minuman bersoda lebih sering mengalami nyeri haid dan siklus menstruasi tidak teratur. Selain itu, asupan gula berlebih dapat mengganggu keseimbangan hormon estrogen dan meningkatkan peradangan, yang memperparah nyeri haid dan nyeri payudara.
2. Kafein dan Retensi Air
Banyak jenis soda — terutama cola — mengandung kafein sekitar 30–50 mg per kaleng. Meskipun kafein dapat meningkatkan energi sesaat, konsumsi berlebihan dapat menyempitkan pembuluh darah, meningkatkan kontraksi rahim, dan memperparah nyeri haid.
Kafein juga dapat menyebabkan retensi air dan kembung, dua gejala yang sering dirasakan saat menstruasi. Sebuah studi di Journal of Taibah University Medical Sciences (AlBasri et al., 2014) menemukan bahwa konsumsi kafein berkorelasi dengan meningkatnya ketidaknyamanan saat menstruasi pada mahasiswa perempuan.
Jika ingin tetap menikmati minuman bersoda, pilihlah varian tanpa kafein atau air mineral berkarbonasi tanpa gula sebagai alternatif yang lebih sehat.
3. Dehidrasi dan Masalah Pencernaan
Kandungan gula dan asam fosfat dalam soda dapat memicu dehidrasi. Padahal, selama menstruasi tubuh membutuhkan cairan lebih banyak untuk menggantikan darah dan elektrolit yang hilang. Dehidrasi dapat memperburuk sakit kepala, kelelahan, dan kram otot.
Selain itu, gas dari minuman bersoda juga dapat menyebabkan kembung dan perut terasa penuh, terutama jika kamu sudah mengalami gangguan pencernaan saat haid.
4. Alternatif yang Lebih Sehat
Jika menginginkan minuman menyegarkan, coba ganti dengan:
-
Air soda dengan perasan lemon atau irisan mentimun
-
Kombucha (dalam jumlah kecil, karena sifatnya asam)
-
Teh hijau atau matcha, yang kaya antioksidan
-
Infused water dengan potongan buah atau daun mint
Menjaga hidrasi tubuh membantu mengurangi kembung, memperlancar sirkulasi darah, dan meredakan nyeri haid. Disarankan untuk minum setidaknya 2–2,5 liter air per hari selama menstruasi.
5. Kesimpulan
Sesekali minum soda tidak masalah, tetapi jika dikonsumsi rutin, efeknya bisa memperburuk kram, kembung, dan ketidakseimbangan hormon. Saat menstruasi, tubuh membutuhkan nutrisi dan cairan yang menstabilkan hormon — bukan tambahan gula dan kafein.
Jika ingin yang manis, cobalah buah segar, cokelat hitam, atau smoothie alami. Tubuhmu (dan kulitmu) akan berterima kasih nantinya.
Sumber:
-
AlBasri, S. F., Farahat, F. M., & Alsaffar, F. M. (2014). The impact of caffeine consumption on menstrual symptoms among female students. Journal of Taibah University Medical Sciences, 9(1), 44–48.
-
Bahirat, S., Patel, J., & Shah, R. (2021). Effect of caffeine on menstrual pain among college students. International Journal of Reproductive Medicine and Gynecology, 7(3), 112–117.
-
Chocano-Bedoya, P. O., Manson, J. E., Hankinson, S. E., et al. (2011). Sugar-sweetened beverage intake and risk of premenstrual syndrome. American Journal of Clinical Nutrition, 94(5), 1345–1352.
-
Jang, H., Kim, J., & Park, E. (2018). Association between soft drink consumption and menstrual irregularity in high school girls. BMJ Open, 8(1), e019978.
-
Harvard Health Publishing. (2022). How sugar affects your hormones. Diakses dari www.health.harvard.edu
Tinggalkan komentar