Period Poverty di Indonesia: Akses, Kesempatan, dan Stigma

Oleh Leilani H

Period poverty (kemiskinan menstruasi) seringkali didefinisikan sebagai kurangnya akses akan produk-produk menstruasi seperti pembalut dan tampon. Padahal kenyataannya, period poverty tidak hanya tentang akses produk menstruasi, melainkan juga membahas kurangnya akses air bersih, sanitasi, dan hygiene, atau fasilitas dasar yang dibutuhkan perempuan untuk mengganti pembalutnya dan mengendalikan menstruasinya dengan penuh hormat, ya dengan hormat.


Menstrual equity (kesetaraan menstruasi) dan period poverty adalah masalah besar bagi seluruh perempuan dengan status sosio-ekonomi rendah di dunia. Sebagai perempuan di Indonesia, pernah tidak kalian merasa bingung ketika ingin membuang pembalut? Atau malas ganti gara-gara toiletnya kotor?


Memang sih, satu bungkus besar pembalut di Indonesia harganya hanya sepuluh ribuan, tetapi banyak sekali perempuan di Indonesia yang tidak membeli kebutuhan produk menstruasi tiap bulannya, sehingga biasanya mereka membeli pembalut ketengan di warung dekat rumahnya. Masih ada juga di antara mereka yang masih menggunakan tisu atau kain yang tidak terjamin kebersihannya sebagai pembalut ketika tidak dapat menemukan atau tidak mampu membeli pembalut sekali pakai.


šŸ“š Edukasi dan Menstruasi šŸŽ’

Ibukota Indonesia, DKI Jakarta adalah kota dengan paling banyak mal sedunia, mal dengan toilet yang bersih. Masih ada lho, perkampungan dan daerah kumuh di tengah kemewahan kota Jakarta, di mana terdapat banyak sekolah masih tidak memiliki toilet yang layak. Toilet di sekolah-sekolah tersebut berada dalam kondisi yang amat kotor - bisa dibayangkan bagaimana rasanya mengganti pembalut di tempat yang gelap, tidak ada air bersih, tidak ada tempat sampah, ataupun pintu yang dapat dikunci. Keadaan ini membuat menstruasi di sekolah sangat sulit, jauh dari kata nyaman. Penelitian dari UNICEF Indonesia menemukan bahwa anak perempuan di usia sekolah seringkali mengurangi minumnya agar tidak pipis di sekolah dan tidak perlu ke toilet. Banyak juga yang tidak mengganti pembalutnya selama lebih dari 9 jam karena takut temannya menemukan pembalut bekas pakainya di tong sampah. Padahal itu tidak sehat, lho.

Toilet restroom in rural indonesian school period poverty unhygienicToilet restroom in rural indonesian school period poverty unhygienic

Selain nyeri menstruasi dan fasilitas yang kurang memadai, anak-anak juga dihantui oleh bullying, kecemasan, dan rasa malu akan menstruasi (dan juga rasa takut akan bocor) yang membuat mereka tidak bisa bersekolah dan ketinggalan pelajaran. Hal ini diperburuk oleh tiadanya pendidikan seks serta kesehatan reproduksi yang kurang, sehingga menstruasi seringkali dianggap sebagai sesuatu yang tabu, yang kotor, yang harus disembunyikan. Pendidikan seks sering dianggap sebagai hal yang berdekatan dengan pornografi, padahal perbaikan sarana dan prasarana menstruasi ā€” terutama di bidang kesehatan reproduksi adalah salah satu kunci untuk memecahkan stigma akan menstruasi, memberdayakan perempuan, dan mengakhiri period poverty.


šŸŒ§ļø Mens di keadaan darurat: Bencana Alam! šŸŒŖļø

Indonesia adalah negara kepulauan yang berdiri di atas cincin api, yang dianugerahi dengan beragam keindahan alam pegunungan, yang membuat kita juga rentan akan erupsi gunung berapi, gempa bumi, serta banjir. Sebagai perempuan yang pastinya bermenstruasi, pernahkah terlintas di kepalamu untuk mengambil softex selagi kamu mengevakuasi diri dari rumah. Aku sendiri sih jelas nggak.


Pada saat terjadi bencana alam, penting sekali untuk kita untuk menyediakan produk menstruasi dan kebersihan lainnya pada korban yang terdampak akan bencana tersebut. Di saat mereka mendapatkan berbagai bantuan pangan, sandang, dan lain-lainnya, ada satu hal yang seringkali terlupakan ā€” pembalut dan produk kewanitaan lainnya. Padahal, barang-barang ini adalah salah satu kebutuhan dasar manusia yang seharusnya memadai.


šŸ¤šŸ½ Apa yang bisa kamu lakukan? šŸ¤šŸ½

Kamu bisa mulai lihat lingkungan di sekitarmu, di sekolah dan perkantoran terdekat. Ada nggak tempat pembuangan pembalut di sana? Apakah ada yang sering membicarakan tentang menstruasi dan kesehatan perempuan dengan remaja perempuan di lingkunganmu? Jika belum ada, kita semua bisa kok mempromosikan kesetaraan dan kehormatan akan menstruasi di lingkungan kita.


Di Indonesia sendiri, sudah ada beberapa start-up yang didirikan oleh perempuan seperti Nona, organisasi non-profit, dan UNICEF yang telah berjuang untuk mengedukasi anak-anak perempuan tentang kesehatan reproduksi, menyokong keberadaan fasilitas WASH (Water, Sanitation, and Hygiene - Air, Sanitasi, dan Higiene), dan pengenalan cara sehat mengatasi menstruasi. Di Nona, kami percaya akan pentingnya meningkatkan akses terhadap produk menstruasi, mengakhiri stigma tentang menstruasi, dan membentuk sebuah komunitas untuk mewajarkan menstruasi dan diskusi tentang kesehatan reproduksi. Menstruasi tidaklah kotor. Menstruasi sangat normal. Ayo diskusi bareng di @nonawoman .


Sumber foto:

Photos courtesy of SurveyMeter 2014 on behalf of UNICEF Indonesia (2015).

Tinggalkan komentar

Keranjang Belanja

Tidak ada produk lain yang tersedia untuk dibeli

Keranjangmu saat ini kosong.