Menstruasi Untuk Penyandang Disabilitas – Nona Woman
Situs ini memiliki dukungan terbatas untuk browser Anda. Sebaiknya beralih ke Edge, Chrome, Safari, atau Firefox.

Gunakan Kode FREESHIP untuk pesanan di atas IDR 90.000

Menstruasi Untuk Penyandang Disabilitas

Masa menstruasi merupakan salah satu fase normal yang akan dialami oleh semua perempuan. Meskipun setiap perempuan memiliki siklus yang berbeda-beda, ada yang rutin menstruasi setiap 21 hingga 35 hari sekali, dan adapula yang lebih cepat atau lambat dari itu.

Masa menstruasi ini akan terjadi pada semua perempuan tidak terkecuali dengan penyandang disabilitas. Mungkin selama ini kita masih kurang memperhatikan mereka yang berkebutuhan khusus. Sama halnya dengan perempuan lain pada umumnya, para penyandang disabilitas juga mengalami fase menstruasi.

Hal ini juga pernah disinggung oleh peneliti dari Universitas Sebelas Maret, Surakarta, Jawa Tengah, bahwa sebagian masyarakat menganggap bahwa perempuan berkebutuhan khusus tidak mengalami perkembangan seksual serta dorongan seksual seperti perempuan pada umumnya. Namun, pada kenyataannya penyandang disabilitas juga memiliki fase menstruasi yang sama dengan perempuan pada umumnya. Menurut Dr. William Schwab, dalam artikelnya yang berjudul National Down Syndrome Society, ia menyebutkan bahwa orang yang memiliki “down syndrome” juga mengalami perasaan seksual yang sama dengan orang-orang pada umumnya.

Artikel ini akan membahas cara, informasi, serta produk menstruasi yang pada umumnya tidak dirancang bagi penyandang disabilitas, serta bagaimana kita menghilangkan hal-hal tabu tentang fase menstruasi yang terjadi pada penyandang disabilitas. Namun, sebelum itu kita akan membahas sedikit tentang disabilitas.

Apa Itu Disabilitas?

Disabilitas merupakan suatu kondisi dimana seseorang mengalami keterbatasan, baik fisik, sensorik, mental, serta intelektual dalam jangka waktu yang cukup lama hingga menyebabkan terhambatnya kegiatan untuk berpartisipasi atau bersosialisasi dengan masyarakat sekitar.

Ada beberapa jenis disabilitas yang perlu kamu ketahui, seperti disabilitas fisik, mental, sensorik, dan intelektual. Seorang penyandang disabilitas dapat mengalami satu atau lebih jenis disabilitas dalam waktu yang bersamaan.

Agar lebih jelas, kita akan membahas satu persatu jenis disabilitas.

  1. Disabilitas Fisik
    Disabilitas fisik merupakan kondisi dimana seseorang mengalami keterbatasan fungsi gerak, seperti lumpuh, paraplegia, “cerebral palsy” (CP), dan lainnya. Kondisi ini dapat terjadi karena kecelakaan, penyakit, efek samping obat, atau kelainan bawaan.

  2. Disabilitas Intelektual
    Disabilitas intelektual merupakan suatu keterbatasan, baik secara intelektual maupun perilaku adaptif yang dapat diukur atau dilihat dapat menimbulkan berkurangnya kapasitas untuk beraksi dalam cara tertentu. Penyandang disabilitas intelektual adalah penyandang gangguan perkembangan mental yang secara prinsip ditandai oleh deteriorasi fungsi konkrit di setiap tahap perkembangan dan berkontribusi pada seluruh tingkat intelegensi (kecerdasan).

    Disamping memiliki keterbatasan pada fungsi intelektual, penyandang disabilitas ini juga mempunyai keterbatasan dalam hal kemampuan adaptasi yang menyebabkan terjadinya keterbatasan dalam hal kemampuan komunikasi, rawat diri, kehidupan di rumah, keterampilan sosial, keterlibatan dalam komunitas, kesehatan dan keamanan, akademik dan kemampuan bekerja.

  3. Disabilitas Mental
    Disabilitas mental merupakan salah satu kondisi dimana seseorang mengalami keterbatasan akibat gangguan pada otak atau pikiran. Salah satu contoh disabilitas mental adalah bipolar, depresi, gangguan kecemasan, dan gangguan mental lainnya. Seseorang yang mengalami disabilitas mental dapat mengalami kesulitan untuk berkonsentrasi, berpikir, mengambil keputusan, dan mengutarakan isi pikiran mereka.

  4. Disabilitas Sensorik
    Disabilitas sensorik merupakan salah satu kondisi dimana terganggunya salah satu fungsi panca indera. Salah satu contoh disabilitas fungsi ini adalah, disabilitas rungu, netra, atau wicara.

    Disamping memiliki keterbatasan pada fungsi intelektual, penyandang disabilitas ini juga mempunyai keterbatasan dalam beradaptasi sehingga menyebabkan terjadinya keterbatasan dalam hal kemampuan komunikasi, rawat diri, kehidupan di rumah, keterampilan sosial, keterlibatan dalam komunitas, kesehatan dan keamanan, akademik dan kemampuan bekerja.

Perbedaan Perempuan Disabilitas dan Perempuan Lainnya

Jika kita membahas mengenai perbedaan antara perempuan disabilitas dan perempuan lainnya, sebenarnya tidak ada perbedaan signifikan diantara keduanya. Yang membedakan hanyalah kecerdasan intelektualnya. Hal itu dikarenakan perempuan disabilitas mempunyai keterbatasan kognitif, sehingga dapat menghambat terserapnya informasi yang masuk yang mengakibatkan proses belajar menjadi terhambat.

Masa menstruasi yang terjadi pada penyandang disabilitas menyebabkan ketakutan dan kegelisahan jika keterbatasan kognitif tersebut dapat menyebabkan hal-hal yang tidak diinginkan, seperti kehamilan yang tidak diinginkan, eksploitasi seksual, hingga penyakit menular seksual.

Kurangnya pemahaman terhadap hal berbau seksual membuat penyandang disabilitas tidak dapat mengontrol gairah seksual. Maka dari itu, pemahaman tentang hal-hal pribadi dan batasan-batasan seks harus ditanamkan sejak dini oleh orangtua dan pengasuh. Seperti, cara menggunakan produk menstruasi, menghitung masa menstruasi, dan lain sebagainya.

Tantangan Penyandang Disabilitas Saat Masa Menstruasi

Seperti yang sudah diutarakan sebelumnya, bahwa masih banyak orang yang belum memperhatikan kebutuhan dari penyandang disabilitas, baik kebutuhan publik maupun pribadi. Tentu keterbatasan di ruang publik itu menjadi salah satu tantangan bagi para penyandang disabilitas, khususnya ketika mereka sedang berada dalam fase menstruasi.

Inilah beberapa tantangan yang dihadapi oleh penyandang disabilitas saat masa menstruasi:

  • Terbatasnya kamar mandi yang bisa diakses oleh penyandang disabilitas
  • Kurangnya edukasi tentang seks dan menstruasi untuk penyandang disabilitas
  • Stigma yang muncul di masyarakat mengenai disabilitas dan menstruasi yang membuat mereka malu
  • Masalah praktis bagi penyandang disabilitas
  • Biaya yang dikeluarkan oleh penyandang disabilitas saat masa menstruasi

Bagaimana Penyandang Disabilitas Mengatur Masa Menstruasi?

Mungkin pertanyaan ini juga pernah muncul di benak kamu, tentang bagaimana seorang penyandang disabilitas dapat mengatur masa menstruasi mereka? Saat ini beberapa bisnis mulai memperdulikan kondisi ini. Mereka juga mulai mempertimbangkan untuk membuat menstruasi produk khusus bagi penyandang disabilitas.

Ada beberapa cara yang dapat digunakan oleh para penyandang disabilitas dalam mengatur masa menstruasi mereka, sebagai berikut:

  1. Melacak Siklus Menstruasi
    Cara pertama adalah dengan menggunakan alat untuk memprediksi siklus menstruasi. Saat ini ada beberapa aplikasi yang dapat digunakan untuk membantu memprediksi datangnya masa menstruasi, seperti Nona Woman mobile application (https://linktr.ee/nonawoman).

    Tentu alat ini dapat membantu penyandang disabilitas dalam memahami kondisi mereka, mengatur siklus, serta merencanakan siklus menstruasi mereka sendiri. Dengan cara ini mereka dapat mengetahui siklus menstruasi yang mereka alami dan pastinya dapat memahami gejala yang akan muncul.

  2. Menggunakan Produk Menstruasi
    Saat ini banyak sekali bermunculan produk menstruasi atau alat yang berfungsi menampung darah menstruasi. Beberapa contohnya adalah “menstrual cup,” dimana “menstrual cup” ini menjadi salah satu alat yang cukup membantu penyandang disabilitas saat masa menstruasi. Hal itu dikarenakan “menstrual cup” ini memiliki daya tampung yang besar dan yang paling penting dapat digunakan selama 12 jam. Dengan durasi penggunaan yang cukup panjang ini, membuat penyandang disabilitas tidak perlu repot untuk pergi mengganti alat menstruasi.

    Selain “menstrual cup,” celana menstruasi juga menjadi salah satu alat yang cukup memudahkan penyandang disabilitas pada masa menstruasi. Celana menstruasi dapat mengurangi resiko ‘bocor’ saat menstruasi, sehingga penyandang disabilitas tidak perlu khawatir saat beraktivitas maupun saat malam hari.

  3. Menggunakan Layanan Kesehatan
    Bagi para penyandang disabilitas yang khawatir dengan siklus menstruasi yang mereka alami, mereka bisa menggunakan layanan kesehatan untuk berkonsultasi. Dokter akan membantu mendiagnosis, memberikan arahan, serta mengobati kondisi reproduksi atau siklus menstruasi yang dialami. Sebelum bertemu dengan dokter, penyandang disabilitas mungkin bisa menuliskan beberapa keluhan yang dialami untuk ditunjukkan kepada dokter.

  4. Edukasi Untuk Penyandang Disabilitas
    Selain pergi ke layanan kesehatan, penyandang disabilitas juga bisa mendapatkan edukasi terkait masa menstruasi serta pengelolaan yang tepat. Edukasi ini umumnya diadakan oleh komunitas yang khusus memberikan edukasi reproduksi kepada penyandang disabilitas.

    Komunitas ini biasanya menyediakan beberapa platform untuk memudahkan masyarakat dalam mengaksesnya, seperti “website,” media sosial, dan lainnya. Dalam komunitas ini biasanya menawarkan ruang untuk penyandang disabilitas menceritakan tentang dirinya atau mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang sensitif.

Itulah beberapa penjelasan mengenai pengelolaan menstruasi bagi penyandang disabilitas. Perlu digaris bawahi, bahwa perempuan penyandang disabilitas dan perempuan lainnya memiliki siklus menstruasi yang sama. Untuk itu, sebagai sesama kita juga perlu memberikan dukungan serta bantuan untuk para penyandang disabilitas dalam mengelola masa menstruasi mereka.

Tinggalkan komentar

Keranjang

Tidak ada lagi produk yang tersedia untuk dibeli

Keranjang Anda saat ini kosong.