Situs ini memiliki dukungan terbatas untuk browser Anda. Sebaiknya beralih ke Edge, Chrome, Safari, atau Firefox.

Gunakan Kode FREESHIP untuk pesanan di atas IDR 90.000

Hai Nona! Unduh aplikasi pelacak periode kami untuk iOS & Android untuk memahami lebih lanjut tentang siklus menstruasi Anda.

Bias Gender dalam Perawatan Kesehatan dan Kedokteran

Apa itu bias gender?

Bias gender secara umum bisa diartikan sebagai suatu bentuk tindakan atau perilaku yang lebih mengutamakan salah satu gender di atas gender lainnya. Yang dimaksud gender adalah sifat pada laki-laki dan perempuan yang dibentuk secara sosial maupun budaya.

Bias gender bisa terjadi secara sadar maupun tidak lho. Apa saja contohnya?

  • Perempuan dianggap tidak mampu menjadi pemimpin di suatu perusahaan
  • Laki-laki tidak boleh mengerjakan pekerjaan domestik rumah tangga karena akan terlihat lemah
  • Adanya preferensi gender tertentu dalam suatu iklan lowongan pekerjaan
  • Tidak melibatkan partisipasi perempuan dalam suatu survey karena dianggap tidak memberikan informasi yang valid

Bias gender di bidang kesehatan

Bias gender di bidang kesehatan ditandai dengan adanya ketimpangan perlakuan terhadap laki-laki dan perempuan sebagai subjek dan objek kesehatan. Maksudnya bagaimana?

Sebagai subjek kesehatan, perempuan banyak ditinggalkan dalam studi terkait penyakit. Laki-laki masih menjadi subjek penelitian favorit di bidang kesehatan dan pengobatan.

Studi terbaru pada November 2020 di Amerika Serikat menemukan bahwa beberapa penyakit yang utamanya mempengaruhi kesehatan perempuan seperti anoreksia dan endometriosis tidak banyak mendapatkan dukungan dana untuk studi lanjut. Menurut Lynn Enright, penulis Vagina: A Re-Education, kurang dari 2,5% penelitian yang didanai publik ditujukan untuk kesehatan reproduksi meskipun diperkirakan 1 dari 3 perempuan akan mengalami masalah kesehatan reproduksi atau ginekologi. Sebagai perbandingan, ada lima kali lebih banyak penelitian tentang disfungsi ereksi (hanya mempengaruhi 19% laki-laki) daripada sindrom pramenstruasi, yang mempengaruhi 90% perempuan.

Sebagai pasien perempuan kerap kali mendapatkan interpretasi diagnosis yang berbeda dengan laki-laki padahal menderita penyakit yang sama. Studi tahun 2018 di Amerika Serikat menemukan bahwa dokter sering mendiagnosis sakit pada perempuan sebagai akibat dari kesehatan mental ketimbang kesehatan fisik.


Bagaimana dengan di Indonesia? Apa saja bentuk bias gender yang terjadi di bidang kesehatan di Indonesia?

  • Edukasi soal kesehatan reproduksi banyak berkutat di perempuan saja
  • Urusan kehamilan, kelahiran hingga kontrasepsi masih dianggap sebagai urusan perempuan
  • Masalah kesuburan sering dianggap sebagai masalah perempuan
  • Membicarakan masalah menstruasi masih menjadi hal tabu di kalangan masyarakat

Bias gender di bidang pengobatan

Obat, vaksin serta alat medis baru harus lolos tahapan uji klinik agar bisa dijual secara bebas ke khalayak umum. Hasil uji klinik adalah berupa efektivitas, keamanan serta gambaran efek samping yang sering timbul pada manusia. Uji klinik diawali dengan uji praklinik yang dilakukan pada binatang.

Uji klinik terdiri dari empat fase dan secara khusus diberikan pada para peserta yang terdiri dari orang sehat dan orang sakit (fase I-III). Fase IV merupakan fase monitoring dimana obat sudah dipasarkan dan akan dievaluasi dalam jangka waktu tertentu berdasarkan laporan para penggunanya.

Sayangnya, dalam prosedur peserta uji klinik tidak disebutkan kriteria gender sehingga hal ini memicu terjadinya bias gender yang bisa menjadi masalah baru di kemudian hari. Yang banyak terjadi adalah, banyak produsen obat memilih laki-laki dalam proses uji klinik. Laki-laki dianggap sebagai sampel pengujian terbaik sebab memiliki kondisi fisiologi tubuh yang relatif stabil.

Sebagai contoh:

  • Di Amerika, perempuan baru dilibatkan sebagai partisipan dalam uji klinik tahun 1993.
  • Bahkan 8 dari 10 resep pengobatan ditarik dari pasar selama periode 1997 hingga 2000 karena efek negatif pada perempuan.
  • Yang terkini adalah pengaruh vaksin Covid-19 terhadap menstruasi perempuan. Meski banyak laporan keluhan perubahan terhadap menstruasi setelah vaksin namun baru ada satu penelitian terkait hal tersebut.

Mengapa perempuan jarang dilibatkan?

Studi terhadap penyakit serta uji klinik kebanyakan melibatkan laki-laki karena dianggap memiliki kondisi tubuh yang stabil. tubuhnya. Siklus hormonal laki-laki dimulai kembali setiap hari. Sebaliknya, perempuan dianggap memiliki banyak variabel yang cukup ‘merepotkan’ dalam penelitian, mulai dari pengaruh siklus menstruasi, hingga kondisi saat hamil dan menyusui.

Secara praktis tubuh laki-laki lebih memiliki respon yang stabil terhadap pengaruh dari luar perusahaan perawatan kesehatan dan farmasi berharap ini akan memfasilitasi penarikan kesimpulan dari pengamatan, penelitian, dan uji klinis pengobatan untuk membawa penelitian dan produk mereka ke pasar lebih cepat.


Mengapa gender penting dalam bidang kesehatan dan pengobatan?

Perempuan dan laki-laki memiliki tatanan fisiologi tubuh yang berbeda, sehingga respon tubuh laki-laki dan perempuan terhadap obat maupun penyakit bisa jadi berbeda. Perempuan merupakan setengah dari populasi dunia, tidak adil jika kesehatannya diabaikan hanya karena lebih 'sulit' untuk melakukan penelitian dan studi pada tubuh perempuan.

Untuk satu penyakit yang sama, perempuan dan laki-laki bisa menunjukkan gejala yang berbeda. Contohnya adalah diagnosis penyakit jantung. Banyak perempuan mengalami misdiagnosis atau keterlambatan diagnosis pada kondisi jantung mereka, biasanya tujuh sampai sepuluh tahun lebih lambat daripada laki-laki. Hal ini menyebabkan penyakit kronis berkembang dan menjadi lebih parah pada saat diagnosis dan pengobatan diterima. Hal ini terjadi karena perempuan memiliki kemungkinan yang lebih kecil untuk mengalami gejala "khas" serangan jantung, "khas" didefinisikan berdasarkan gejala yang muncul pada pria.

Begitu pula dengan reaksi obat. Sangat penting untuk melakukan pengujian klinik serta penelitian terhadap suatu penyakit dengan komposisi gender yang adil, agar efek samping serta gejala yang muncul bisa diketahui secara menyeluruh.


Konsekuensi dari adanya bias gender dalam kesehatan dan pengobatan

Secara umum, bias gender dalam bidang kesehatan dan pengobatan sangat merugikan sebab membuat orang tidak bisa mendapatkan layanan kesehatan yang semestinya.

Lebih lanjut konsekuensi bias gender dalam kesehatan dan pengobatan dijabarkan sebagai berikut:

  • Gap pengetahuan: Kurangnya penelitian yang melibatkan partisipasi perempuan di bidang kesehatan mengakibatkan gap pengetahuan yang krusial. Tenaga kesehatan menjadi kurang memahami terhadap kesehatan perempuan dibandingkan kesehatan laki-laki.
  • Diagnosa yang kurang tepat dan/atau terlambat: Gap pengetahuan akibat bias gender bisa berakibat pada diagnosa yang salah dan terlambat sehingga bisa sangat merugikan perempuan.
  • Efek samping pengobatan: Mengingat uji klinik kebanyakan menggunakan subjek laki-laki, maka tidak jarang ada efek samping negatif pengobatan pada perempuan yang tidak terekspose. Akibatnya perempuan bisa dirugikan karena efek samping obat yang tidak diinginkan.
  • Ketidakpercayaan terhadap rekomendasi pengobatan medis: Jika bias gender terjadi secara terus menerus maka akan muncul ketidakpercayaan terhadap institusi layanan kesehatan termasuk terhadap rekomendasi pengobatan medis. Hal tersebut dalam jangka panjang bisa berdampak pada turunnya tingkat kualitas kesehatan.

Apa yang bisa kita lakukan?

Jika kamu merasa sedang mengalami pelayanan kesehatan yang kurang tepat akibat adanya bias gender, berikut ini langkah yang bisa kamu lakukan:

  • Cari second atau third opinion dari dokter lain
  • Berkonsultasi dengan spesialis atau konsultan
  • Cari rekomendasi dokter dari orang lain yang mengalami kasus serupa

Sebagai pasien kita berhak lho untuk menanyakan alasan terkait keputusan dokter atau tenaga kesehatan dalam menentukan jenis perawatan dan pengobatan.

Bias gender di bidang kesehatan adalah masalah serius yang perlu penanganan secara mendalam dan jangka panjang. Semoga ke depannya pihak-pihak terkait bisa lebih mendalami isu bias gender di bidang kesehatan dan pengobatan di Indonesia serta memberikan solusi jangka panjang terhadap permasalahan tersebut.

Baca artikel mengenai Kesehatan Wanita & Kemiskinan Menstruasi:

Tinggalkan komentar

Keranjang

Tidak ada lagi produk yang tersedia untuk dibeli

Keranjang Anda saat ini kosong.